Minggu, 14 April 2019

Ketakutanku

Aku dalam ketakutanku,
Memikirkan yang tak seharusnya ada,
Aku dalam kekhawatiran,
Tentang aku dan kamu yang belum jadi kita,

Menunggumu itu yang ingin ku lakukan,
Menujumu itu lebih dari inginku,
Namun kuasaku hanya sekedar ingin,
Tuhan menentukan segalanya,

Jika dalam penantianku padamu datang seseorang yang lain, harus seperti apa aku menyikapinya,? harus seperti apa aku padamu,??

Tak lepas Do'aku tentangmu, namun jika Tuhan berkata lain, aku bisa apa?
Mungkin kamu lebih faham akan ini.

Perpisahan

Harus disebut apa ketidak berdayaan ini, ketika hanya mampu menangis dalam diam.
Harus seperti apa lagi aku kepadamu, ketika perasaan yang dulu hangat kini berubah dingin.

Ketidakberdayaanku meminta akhir yang pahit, kecintaanku padamu membuatku ingin berlari jauh darimu. Sebab kau tak bahagia bersamaku, itu yang kini terlihat nyata didepanku.

Perpisahan,
Pikiranku mengarah kesana, hal yang paling Tuhan Benci. Namun bertahanpun sama dengan bunuh diri, karena saling menyakiti.
Bukan sekali, berkali-kali aku coba bertahan. Namun ini adalah akhirku.
Aku pasrahkan semua kepadaNya, hingga jalan yang ku pilih adalah yang terbaik untukmu dan juga untuk diriku.

Rabu, 20 Maret 2019

Berhenti Berharap?

Berhenti berharap,
Berhenti berhatap itu seperti apa?
Apa berhenti mengharapkannya?
Berhenti memikirkannya?
Berhenti mendoakannya? Yah, karena mendoakannya berarti masih memikirkannya, bukankah begitu?

Ahh, sekelumit pemikiran tentang harap yang tak sampai, tentang harap yang ada batasannya.
Lalu aku harus bagaimana saat ini,?
Sedang harapku ada padamu,,, maka bantu aku meyakinkan harapku agar tak salah arah dalam berharap.

Ruang Cinta

Aku masih sama seperti yang dulu,
Yang berubah hanya perasaanku,
Dulu aku pernah mengukir namanya di hati,pelan tapi pasti dia membuatku menghapusnya dengan air mata, hingga hati Terkikis goresan luka.

Kini semua terkubur jauh disanubari, melekat sebagai kenangan yang berduri, mengajarkan tentang kesetian yang tak perlu mengharap balasan yang sama.

Sekarang, hadirmu mampu mengobati
Berharap tak akan lagi ada luka yang sama, berharap kamu adalah Takdir yang Tuhan siapkan untukku, untuk kita saling melengkapi dan saling bertahan dalam ruang yang aku sebut Cinta.

Selasa, 11 September 2018

Yahh

Seperti dikhianati memang, di bohongi dengan waktu yg cukup lama... Sesak, pengen teriakk tapi cuma air mata yang mampu mengurangi sesaknya.
Yah, seperti biasa aku hanya bisa pasrah dan mencoba ikhlas. Pantas jika Tuhan memberi Hati yg begitu kuat kepadaku, pantas jika Tuhan Memberikan Sabar yg begitu Panjang kepadaku, pantas jika Tuhan membuat aku menjadi orang dengan kebencian yg minim.

Apapun itu, aku syukuri Tuhan, semua yang engkau tetapkan kepadaku pasti untuk menjadi petuah dan selalu ada Hikmah yg bisa aku petik dari ujian ini.

Alhamdulillah Ala kulli hal

Api Senja

Suara ombak bergemuru, di ikuti hempasan angin, Api membara semakin riuh mengerti kala senja beranjak menjauh...
Gelap,,, senja akhirnya meninggalkan peraduannya, meninggalkan asa menyisakan luka.
Nyala api menjadi penerang, namun membakar hingga arangpun menjadi debu, tak tersisa meski kenangannya...
Telah melebur dan terbang tertiup angin.

Pergi

Sejenak memikirkanmu lagi, dalam lamunan yg memojokkan, menatap jauhh di ujung senja yang ungu...hujan membasahi pipi, menyegarkan hati yang sesak dalam nada bising.
Kala itu di senja yg hening, kita Menghapus janji, mengubur semua kenangan, dan menggantikan mimpi kita menjadi mimpimu dan mimpinya.
Kerelaan dalam hembusan nafas, suatu keharusan dalam hidup tuk melihat kebahagian dimatamu.
Aku mundur dan Pergi beriringan Senja....

Salam,
Yulhie